Minggu, 13 Maret 2011

CERPEN


EKSTETIK  CINTA

Malam bagiku  adalah sesuatu yang mengajakku bercanda,  berfikir,  bernyanyi, bahkan membawaku menikmati langkah rembulan yang redup dikawal beribu bintang. Aku mengejarnya, mencari siapa sebenarnya dia. Apakah malam yang menyelimuti tubuh-tubuh semesta bagaikan badan yang terlindungi oleh pakaiannya? Serta apa pula sesungguhnya bintang-bintang yang tak lelah berkedip bagaikan mata agung yang tak pernah tidur?
      Sebagaimana malam yang baru kujalani, kususuri wilayah yang belum pernah kusinggahi sebelumnya. Malam itu, aku mengajak aku melihat diriku yang telanjang. Melihat aku bernyanyi dan berjalan di antara lorong-lorong yang tak pernah kuketahui. Di sana aku melihat sekilas bayang tentang hidup,p erilaku hidup , dan segala problemanya. Bayangan itu menyapaku, ”Hei, kau., siapa yang membawamu kemari?” 
“Yang membawaaku kemari adalah pribadiku. Bulan serta bintang yang mengawalku.”
 “Aku ingin mencari jawab, siapa yang mulai terlelap tidur didalam dunia mimpiku?”
“Bagaimana mungkin aku tak tahu, sebab dia  itu seorang yang telah membuat aku merasa gelisah.
                  Menurutku, ia dan aku sangat  erat. Ia dan aku mungkin teman. Tapi mungkin dia adalah aku, aku adalah dia. Seperti bunga dan wanginya, matahari dan panasnya. Namun, aku dan dia nampak berbeda, karena aku yang tak jelas apa maunya. Aku ibaratkan, aku seorang wanita dan dia seorang lelaki. Aku yang slalu berkehendak,ia yang membantuku dan dia tak pernah menyangkal permintaanku.
Kalau begitu, aku wanita yang bertindak sewenang-wenang dan otoriter?”
                  “Mungkin! Tapi aku keliru, aku memang seorang wanita, tetapi aku tidak otoriter. Bahkan aku selalu mengalah dan memberi kepuasan padanya.  Jika aku berhasil akan sesuatu, itu pun karenanya. Namun, aku merasa sedih dan ingin berlari dari kenyataan yang menyakitkan ini. Aku sedikit berterus terang tentang perasaanku padanya. Karena aku tak mau hidup dalam kedustaan, kemunafikan, dan tiada tanggung jawab.
       Sebelum aku jauh melangkah, aku ingin sekali bertanya padanya, ”Apakah aku yang ia cari selama ini?”
”Dan bagaimana pula hubungannya dengan wanita yang lalu?”
”Mengapa aku bertanya aneh-aneh dan mengintrogasi dia?”
Ia pun menjawab, “Pertanyaanmu sangat memusingkan, kuno, dan tak bermutu”.
“Apa benar-benar mencari dan menginginkanku?”, begitu katanya sambil menatapku.
Kujawab tanyanya dengan sungguh-sungguh, ”Iya”. Apapun yang aku cari di dalam dunianya, setiap wanita  juga mencarinya. Itu pasti dan aku yakin!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar